Umar dan Kebun Kurma

kebun kurma
kebun kurma

Halo sahabat kaos sablon bekasi, Kali ini kami akan membagikan cerita inspirasi tentang umar bin khattab dan kebun kurmanya. Oia minta doa nya juga agar kami bisa menjadi sablon murah bekasi dan sablon kaos murah cikarang, hehe. Yuk kita simak ceritanya

ADA sebuah kisah tentang Umar bin al-Khaththab yang diceritakan oleh Abdullah bin Umar r.a. (putera beliau). Dikisahkan, bahwa pada suatu hari Umar bin al-Khaththab keluar meninjau kebun kurmanya. Selang beberapa lama, kemudian beliau kembali ke rumah. Ketika tiba di dalam kota Madinah, beliau melihat orang-orang sudah selesai melaksanakan shalat Ashar. Melihat para sahabatnya telah selesai melaksanakan shalat berjamaah Ashar, beliau sangat menyesal dan berkat: “Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn, Aku terlambat untuk melaksanakan shalat ashar dengan berjamaah lantaran kebun kurma itu! Ya Allah, saksikanlah! Kebun kurma itu kusedekahkan ‘sekarang juga’ kepada para fakir miskin sebagai kifarat atas kealpaan yang telah kulakukan. Beliau menyesal, karena asyiknya berada di kebun kurma, shalat jamaah ashar yang biasa beliau kerjakan ‘tertinggal’ karenanya.
Kisah ini memang sangat sederhana, tetapi sarat makna. Betapa tidak! Seorang yang hatinya telah ‘terkait’ dengan Allah akan memiliki kerinduan yang dalam kepadaNya. Sehingga shalat yang sudah terbiasa dia kerjakan akan selau didambakan untuk dikerjakan sesempurna mungkin. Untuk berjamaah ashr dengan tepat waktu pun menjadi sesuatu yang jauh lebih dianggap penting daripada urusan dunia apa pun. Termasuk urusan ‘kebun kurma’ yang oleh sebagian orang pada saat itu dianggap sebagai hal yang sangat penting.
Umar bin al-Khaththab tidak sendiri. Para sahabat Rasulullah SAW yang lain pun memunyai ‘spirit’ yang sama. Tetapi, khusus untuk Umar bin al-Khaththab, berkaitan dengan kebun kurmanya ada nilai tersendiri. Karena, pada saat itu, kebun kurma beliau sedang menjadi sumber dana yang cukup penting bagi keluarganya. Tetapi, ketika harus memilih antara harta dan ‘kesempurnaan’ pelaksanaan shalat, Umar bin al-Khaththab memilih ‘yang kedua’. Karena bagi diri Umar, ‘Allah’ adalah kekasihnya yang jauh lebih layak dicintai dari apa pun, termasuk ‘kebun kurma’ yang sangat mempesona.
Marilah kita belajar dari Umar bin al-Khaththab melalui kisah menariknya, ketika ‘Dia’ rela untuk menjual kebun kurmanya demi keinginannya untuk lebih bisa mendekatkan dirinya kepada Allah. Dan jangan sampai kita terlena oleh kenikmatan duniawi yang sering digunakan oleh setan untuk menggoda diri kita, sehingga kita ‘bisa jadi’ lupa kepada Allah.
Oleh : Muhsin Hariyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *